Mengenal 3 Tipe Membaca

Ada tiga tipikal membaca yang perlu Anda ketahui. Setidaknya, dengan mengetahui tiga tipe ini, Anda bisa memilih cara membaca mana yang sesuai dengan tujuan yang ingin Anda capai dari kegiatan membaca. Tiga tipe itu adalah membaca aktif, membaca secara kritis, dan membaca efektif dengan membuat cek list. Yuk, kita simak satu persatu! 1. Membaca aktif Teknik membaca aktif berhubungan dengan cara-cara bagaimana Anda dapat terlibat atau terhubung dengan apa yang Anda baca. Teknik ini sangat penting karena ini membantu Anda untuk meningkatkan konsentrasi Anda ketika membaca, dan membantu Anda untuk mengingat inti dari bacaan tersebut. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan proses pembelajaran Anda.

Apa saja contoh-contoh kebiasaan yang dilakukan agar kita bisa disebut membaca secara aktif? – Garis bawahi atau menandai kata-kata kunci dari paragraf yang sedang Anda baca dengan pensil atau highliter; – Variasikan kecepatan membaca Anda dan tentukan jangka waktu kapan Anda harus menyelesaikan bacaan Anda; – Membaca dengan suara keras (untuk menghafal bagian tertentu); – Merangkum bacaan Anda dengan kata-kata sendiri di notebook Anda; – Membuat pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya dapat Anda temukan di buku tersebut; – Bubuhi bacaan Anda dengan keterangan-keterangan tambahan versi Anda; – Berhenti di poin-poin yang penting dan strategis untuk meninjau serta mengonsolidasikan kembali apa yang telah Anda baca, sebelum membaca lebih lanjut. Istilah singkatnya, review ulang apa yang Anda baca sebelum melanjutkan bacaan.

2. Membaca secara kritis Anda tentunya diharapkan untuk menjadi ‘kritis’ ketika membaca. Apalagi, membaca karya-karya ilmiah atau literatur-literatur. Artinya, Anda harus menilik maksud, bukti-bukti, serta ide-ide yang digunakan oleh si penulis untuk meyakinkan pembacanya. Sebelum Anda menelan ‘mentah-mentah’ semua yang Anda baca, ada baiknya Anda mengevaluasi apa yang Anda baca. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang bisa Anda keluarkan sebelum membaca untuk meningkatkan analisa kritis Anda: – Kredibilitas apa yang dimiliki oleh sang penulis dalam lingkup tulisan ini? Misalnya, buku sejarah, apakah si penulis adalah orang yang ahli dalam bidang sejarah, atau buku ekonomi, apakah penulisnya kredibel dalam bidang ekonomi? – Hal apa yang penting dan signifikan dalam bacaan ini? – Klaim apa yang dibuat si penulis? Apa dasarnya? Apa bukti-bukti yang digunakan serta dipaparkan oleh si penulis? – Logiskah ide-ide si penulis? Apakah kesimpulan yang dibuatnya mengikuti bukti-bukti yang ia paparkan? – Seberapa validkah kesimpulan dari bacaan tersebut? Apakah kesimpulan itu dapat diaplikasikan secara umum?

3. Effective Reading Checklist Sebelum Anda mulai membaca, ada baiknya Anda ‘mengintip’ checklist di bawah ini agar Anda dapat membaca secara efektif: – Apakah Anda sedang dalam suasana yang baik serta di dalam lingkungan yang baik dan mendukung ketika Anda membaca? – Apakah Anda sudah menentukan tujuan Anda membaca buku atau teks tersebut? – Apakah Anda menggunakan teknik membaca aktif? -Apakah Anda sudah persiapkan diri Anda untuk membaca secara kritis?

Kemampuan Membaca Anak Indonesia Masih Rendah

Kemampuan membaca siswa sekolah di tingkat sekolah dasar (madrasah ibtidaiyah) saat ini memiliki kecenderungan rendah. Lemahnya kemampuan membaca siswa SD (MI) patut diduga karena lemahnya pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran membaca.

Salah satu penelitian yang mengungkap lemahnya kemampuan siswa, dalam hal ini siswa kelas IV SD(MI), adalah penelitian Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yaitu studi internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia yg disponsori oleh The International Association for the Evaluation Achievement. Hasil studi menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di dunia.

Demikian hasil studi tersebut dipaparkan dalam laporan penelitian “Studi Penilaian Kemampuan Guru Melalui Video dengan Memanfaatkan Data PIRLS” oleh Prof Dr Suhardjono dari Pusat Penelitian Pendidikan Depdiknas. Dalam laporan tersebut, Suhardjono menuturkan, muara dari lemahnya pembelajaran membaca patut diduga karena kemampuan guru dan kondisi sekolah.

“Kondisi sekolah yang dimaksud meliputi sarana dan prasarana, jumlah siswa dalam kelas, akses ke sekolah, dan prestasi sekolah,” ujarnya.

Suhardjono mengatakan, studi penilaian melalu video ini untuk memperoleh gambaran utuh kemampuan guru dalam pembelajaran, termasuk informasi tentang kelemahan dan kekurangan guru. Cara ini bisa memperoleh analisis yang akurat dan cermat. Adapun sumber data penelitian adalah guru Bahasa Indonesia, siswa kelas IV dan kepala sekolah dari 12 sekolah yg menjadi sampel PIRLS. Sekolah-sekolah tersebut, antara lain, SDN Pejaten Timur 05 Pagi, SDN Karang Anyar 04 Petang, SDN Cigadung 1, SD Panorama, SDN Kampung Sewu, SDN Klecosatu 07, Madrasah Ma’Arif Selak, SDN Bobang 02, SDN Banarang 2, SD Bina Taruna 3, dan SDN 101990 Namorambe.

5 Panduan Membaca Efektif

Suka membaca? Agar apa yang Anda baca tak “menguap” begitu saja, ada strateginya! Dengan menerapkan sejumlah panduan dalam membaca, Anda akan mendapatkan sesuatu dari buku yang dibaca. Panduan berikut ini bisa membuat cara membaca Anda lebih efektif!

1. Scanning

Scanning atau membaca sepintas lalu, bertujuan untuk mendapatkan informasi, menjawab pertanyaan atau  menyelesaikan masalah yang spesifik. Misalnya, Anda ingin mengetahui tentang perjuangan wanita dalam revolusi Indonesia di sebuah buku sejarah. Bacalah dahulu daftar isi, abstraksi, kesimpulan akhir, ringkasan, dan tabel-tabel di dalam buku tersebut. Cara ini memungkinkan Anda untuk menemukan bagian yang relevan dengan apa yang Anda cari, dan Anda dapat hanya membaca informasi-informasi yang Anda butuhkan saja.

2. Skimming

Skimming adalah membaca bagian awal sebuah bacaan secara cepat untuk memperoleh gambaran umum atau inti dari buku tersebut. Cari dan surveilah isi buku tersebut dengan membaca cepat bagian awal setiap babnya hingga Anda menemukan bagian yang Anda cari.

3. Membaca Kalimat Topik

Lakukan ini sebelum Anda membaca lebih dalam. Membaca kalimat-kalimat topik akan berguna ketika Anda mendapatkan bacaan yang padat atau konten yang benar-benar asing/baru bagi Anda. Bacalah kalimat topik atau kalimat inti dari setiap paragrafnya. Dengan ini, Anda akan mendapatkan overview atau gambaran dari bab tersebut

4. Baca Secara Detil

Setelah Anda melakukan 3 hal di atas, bacalah bagian utama atau bagian yang padat dari bacaan tersebut untuk menyaring bukti-bukti pendukung atau mendapatkan isi dari apa yang Anda cari. Bacalah perlahan, berikan perhatian pada hal-hal yang detil. Analisalah isi bacaan Anda dengan menghubungkan ide-ide yang terkait, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci dari bacaan tersebut, menerapkan ide atau mentransfer pengetahuan dari bacaan tersebut, serta mengevaluasi argumen sang penulis terhadap bukti-bukti yang dipaparkan.

5. Bacalah untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Anda

Setelah membaca, mungkin Anda tertarik untuk menulis tentang apa yang Anda cari tersebut. Nah, tingkatkanlah kemampuan menulis Anda dengan memperhatikan struktur dan teknik yang digunakan dalam bacaan Anda. Perhatikanlah struktur keseluruhan bacaan tersebut, struktur dan panjang paragraf, konstruksi argumen penulis, penggunaan bukti-bukti untuk penulisan, analisis literaturnya, transisi serta diskursus penulisan (hubungan antara tulisan satu dengan lainnya, serta alur (flow) tulisan tersebut), serta penggunaan bahasa dan gaya tulisan buku tersebut.

Tidak Suka Membaca, Tapi Cerewet di Medsos, Jadilah Hoax

Warganet Indonesia, utamanya Jakarta, bolehlah dibilang sebagai salah satu kelompok di jagat maya yang paling berisik di media sosial.

Sayangnya, tak sedikit dari mereka yang kurang terpapar informasi dengan baik. Akibatnya, informasi hoax berkembang subur dan terviralkan sedemikian rupa.

“Tidak suka membaca, tapi cerewet. Jadilah media sosial kita ini kumpulan caci maki. Hoax,” kata Maman Suherman, seorang pegiat literasi, dalam acara #AkuBaca NgabubuREAD yang digelar Kompas Gramedia Grup di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (17/6/2017).

Selain Maman, pembicara lainnya adalah penulis skenario Irfan Ramli. Acara dihadiri kawan Kompas Muda, mahasiwa, dan para pegiat literasi. Mereka saling berbagi cerita mengenai pengalaman seru membaca.

Menurut Maman, membaca adalah sebuah jalan untuk meraih ketercerahan.

“Membaca itu membawa manusia dari gelap menuju cahaya. Kalau kata Kartini, habis gelap terbitlah terang. Kalau bahasanya Kompas, enlightening people,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Ramli berbagi pengalaman mengenai asyiknya membaca. Ia mengaku tumbuh di kelompok yang tidak suka membaca. Namun, ia merasa bahwa membaca itu seperti berpetualang ke mana-mana.

“Saya percaya bahwa membaca adalah kebutuhan dasar bagi manusia. Itu yang membuat saya tidak suka bepergian ke mana-mana, karena membaca itu sudah membuat saya ke mana-mana,” ujar Ramli.

Dalam acara ini, para peserta dilibatkan secara aktif untuk berbagi pengalaman dan pandangannya tentang membaca. Sebagian peserta mengungkapkan bahwa membaca tak hanya sekadar mengisi waktu luang, tapi juga menginspirasi dan membangun motivasi diri.

Selain itu, membaca bisa membuat mereka menjelajah berbagai tempat, serta membuat imajinasi mereka semakin terasah.

Staf Corporate Social Responsibility Kompas Gramedia Teguh Azmi Pamungkas menyampaikan, bincang santai tentang pengalaman membaca sambil menunggu waktu berbuka puasa ini digagas Kompas Gramedia bersama harian Kompas dan didukung oleh Bank Central Asia (BCA).

Acara digelar sebagai keberlanjutan dari gerakan #AkuBaca yang telah diluncurkan bulan pada 17 Mei 2017 lalu.

“Gerakan ini sifatnya maraton. Kami mengajak sebanyak mungkin pihak, baik pribadi, komunitas, maupun institusi, untuk bersama-sama berkontribusi menumbuhkan minat dan akses baca masyarakat Indonesia,” kata Teguh.

Di hari yang sama, gerakan #AkuBaca juga mengirimkan lebih dari 100 kilogram buku-buku ke 11 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di berbagai daerah di Indonesia.

Buku-buku tersebut merupakan hasil penggalangan gerakan #AkuBaca melalui “ATM Buku” yang ditempatkan di beberapa titik perkantoran Kompas Gramedia.

Penyaluran buku ini juga bersinergi dengan program pemerintah yakni pengiriman buku gratis setiap tanggal 17.

Heru Margianto

Ada Rahasia di Balik Kebiasaan Membaca

Membaca tak hanya menjadi cara untuk menambah pengetahuan. Ada sejumlah rahasia di balik kebiasaan ini.

Sejumlah tokoh dunia dikenal punya kegemaran rutin membaca, bahkan di setiap pagi sembari meminum kopi. Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, adalah salah satu tokoh yang setiap pagi rutin membaca media massa utama.

Pendahulu Obama, Bill Clinton, juga diketahui suka membaca novel. Karya Ralph Ellison masuk daftar bacaan favoritnya.

Di antara sekian rahasia kebiasaan membaca adalah manfaatnya bagi kecerdasan otak. Membaca juga tak selalu berarti dari buku atau media cetak.

Perkembangan teknologi telah memungkinkan aktivitas tersebut dilakukan lewat dunia maya. Misalnya, memakai peranti bergerak seperti Samsung Galaxy Tab S2.

Mobilitas yang semakin tinggi, memungkinkan perangkat teknologi mobile memberikan andil lebih besar dalam kehidupan keseharian. Membaca bukan perkecualian.

Terlebih lagi, layar Super AMOLED maupun dimensi dengan ketebalan tak lebih dari 5,6 milimeter seperti yang dipasang pada tablet tersebut, memberikan ketajaman warna dan membuatnya gampang dijinjing yang bisa memudahkan kebiasaan membaca.

Berikut ini adalah berapa manfaat yang bisa didapat dari kebiasan membaca:

Perspektif dalam Berpikir

Clinton berpendapat, membaca merupakan cara dia mendapatkan referensi, dari literatur hingga aneka sudut pandang atas sebuah persoalan.

Dalam konteks Clinton, misalnya, dia mengaku mendapatkan sudut pandang sebagai politisi tentang diskriminasi ras dari novel The Invisible Man dan I Know Why the Caged Bird Sing.

Kemampuan Menulis dan Berbicara

Banyak orator besar dikenal sebagai sosok kutu buku. Sebut saja Soekarno, Nelson Mandela, juga Abraham Lincoln.

Mereka mengembangkan kemampuan berbicara dan mempengaruhi audiens berbekal kegemaran membaca.

Membantu Pembelajaran

Thorndike, ahli pembelajaran asal Amerika Serikat, menyatakan belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respons.

Menurut dia, perubahan tingkah laku bisa berwujud sesuatu yang dapat diamati atau yang tidak dapat diamati.

Membaca, kata Thorndike, membantu proses pembelajaran dengan merangsang otak merespons materi bacaan.

Mengasah Otak

Dalam buku The New IQ, ingatan jangka panjang bisa dilatih, salah satunya lewat membaca. Bahkan, membaca disebut sebagai latihan terbaik untuk otak dan daya ingat.

Setiap halaman dan chapter yang biasa dibaca akan mengendap dalam ingatan. Untuk menantang kemampuan otak dan daya ingat, ada baiknya menjajal beragam buku, pengarang, dan gaya penulisan.

Muhamad Malik Afrian

Bangsa yang Berkarakter adalah Bangsa yang Membaca

Pada zaman Hindia Belanda, para pelajar di Algemene Middelbare School (AMS) yang setara dengan Sekolah Menengah Umum (SMU) sekarang diwajibkan untuk membaca. Siswa diminta melahap paling tidak 20 sampai 25 buku karya sastra selama tiga tahun masa studi mereka.

Kegiatan membaca biasanya diikuti dengan menulis karangan setiap minggunya. Dapat dibayangkan banyaknya tulisan yang dihasillkan oleh setiap pelajar selama kurun waktu tiga tahun tersebut.

Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, dan Ali Sosroamidjoyo adalah produk pendidikan tersebut. Sejarah juga mencatat banyak buku dan tulisan dahsyat dari para tokoh itu yang kemudian mengubah nasib bangsa ini.

Sebutlah Di Bawah Bendera Revolusi karangan Soekarno. Buku ini berisi semua pemikiran brilian sang proklamator, terutama pada masa pra-kemerdekaan.

Juga bung Hatta, si kutu buku, yang dengan pledoi terkenalnya “Indonesie Vrij” – Indonesia Merdeka. Hatta menulis itu dari balik tembok penjara di Belanda saat ditahan Pemerintah Hindia Belanda pada masa studinya.

Nilai Universal

Situasi yang ada sekarang sangat berbeda. Sastrawan Taufik Ismail pernah melakukan riset tentang kewajiban membaca buku sastra di beberapa negara di kalangan pelajar setingkat SMU selama tiga tahun masa studi mereka.

Hasil risetnya menunjukkan, para pelajar SMU di Jerman wajib membaca 32 buku sastra, di Belanda 30 buku, di Amerika Serikat sebanyak 25 buku, di Jepang 12 buku, di Singapura 6 buku, di Malaysia 6 buku, dan di Indonesia nol!

Hal itu sudah berlangsung lebih dari 60 tahun dan tidak ada yang “panik”. Tragedi nol buku! Suatu kemunduran yang mengerikan.

Lalu, apa hubungannya dengan situasi bangsa? Apakah berarti kita ingin menjadikan semua anak di negeri ini menjadi sastrawan? Bukannya negeri ini konon membutuhkan lebih banyak  insinyur, ahli hukum, dan tenaga medis?

Membaca bukan sekedar untuk mengerti arti kata, arti kalimat dan jalan cerita sebuah kisah. Membaca yang benar bukan sekedar kegiatan kognitif. Membaca bukan sekedar untuk ngerti dansekedar tahu. Membaca itu untuk mengolah rasa, mengasah kepekaan, serta membangkitkan kesadaran.

JK Rowling, salah satu penulis tersukses abad ini, mengatakan bahwa salah satu buku favoritnya adalah Macbeth karya pujangga terkenal Willian Shakespeare. Selain itu, Rowling juga menggilai buku-buku politik tentang Abraham Lincoln.

Genre buku yang ditulis Rowling sangat berbeda dengan karya besar Shakespeare. Kita pun sulit membayangkan irisan antara Harry Potter, si karakter utama di buku karangannya dengan Abraham Lincoln si bapak bangsa Amerika, jika kita hanya melihat dari permukaan saja.

Namun, itulah kekuatan membaca! Tak ada batasan genre dalam buku, tidak ada batasan ideologi dalam buku, tidak ada batasan zaman dalam buku.

Membaca novel Harry Potter sama nilainya dengan membaca Little Women karya Louisa May Alcott atau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Hamka atau Filosofi Kopi milik Dewi Lestari.

Ya, karya sastra adalah tulisan paling paripurna. Di dalamnya ada rasa, penghayatan dan juga fakta kehidupan. Di dalamnya ada totalitas dan jiwa sang penulis. Itu yang tidak didapat dari buku referensi atau buku pelajaran biasa. Membaca dengan totalitas akan menghasilkan tulisan dengan totalitas pula.

Mungkin, jika Hatta dulu tidak dijejali dengan karya-karya sastra, maka ia hanya akan menjadi seorang ahli ekonomi, bukan proklamator! Boleh jadi, dia mendapatkan gelora cinta tanah air dan kesadaran untuk memerdekakan rakyat terjajah dari buku-buku sastra yang dibacanya.

Buku adalah universal. Ia hanya mengenal imajinasi, kreatifitas, dan rasa ingin tahu. Kekuatan “sihir” dari buku juga dapat mengubah orang memiliki wawasan lebih luas dan cita-cita, serta berorientasi pada penyelesaian masalah (action). Membaca adalah kegiatan kognitif, afektif sekaligus psikomotorik.

Memupuk Budaya Baca

Apa ciri suatu bangsa sudah memiliki budaya baca yang baik? Banyak sekali fenomena sehari-hari yang dapat menunjukkan hal itu.

Sebutlah misalnya, apakah bangsa tersebut lebih bangga memiliki gedung pencakar langit tertinggi di dunia dan mal terbesar di Asia, atau lebih bangga memiliki toko buku terindah di dunia?

Maastricht, salah satu kota di Belanda, memiliki sebuah toko buku sekaligus perpustakaan yang merupakan salah satu toko buku terindah di dunia. Selexyz Dominicanen adalah sebuah gereja abad ke-13 yang pernah dijadikan hanya sebagai gudang arsip dan tempat parkir sepeda, dan kini dialih fungsikan menjadi kebanggaan dan ikon kota cantik di bagian selatan negeri kincir angin itu.

Bandingkan dengan rumah-rumah retro yang cantik di sepanjang jalan Dago di Bandung. Tak satu pun yang menjadikannya sebagai toko buku atau perpustakaan. Bangunan nan anggun itu harus “rela” hanya dijadikan factory outlet atau warung batagor.

Membaca tidak cukup dijadikan ajakan atau himbauan. Membaca harus menjadi kewajiban. Jika perlu dikembangkan kurikulum pendidikan nasional berbasis membaca.

Kewajiban membaca bagi siswa adalah membaca dalam pengertian lengkap. Bukan sekedar menghafal siapa nama penulis buku Layar Terkembang atau siapa tokoh antagonis dalam buku Siti Nurbaya. Tapi, membaca yang mampu mengasah rasa, menumbuhkan nilai-nilai dan membangun karakter.

Membangun kecintaan pada membaca bukanlah pekerjaan satu malam dan tanggung jawab sekolah saja. It takes a village! JK Rowling mengatakan:”Kalau kamu belum suka membaca, kamu hanya belum menemukan buku yang tepat.”

Jadi, jangan menyerah, teruslah pupuk minat membaca!

Bangsa yang Membaca

“Iqra! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Iqra, dari kata dasar qara’a ataumenghimpun. Inilah wahyu pertama sekaligus kunci dari kehidupan dan peradaban.

Membaca bukan sekedar literasi aksara. Membaca adalah menelaah, mendalami, meneliti, dan menyampaikan.

Bangsa yang membaca akan lebih bijak, karena ia memilki banyak jendela untuk memandang masalah dari berbagai sudut.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang mencari solusi dengan melihat ke dalam (inward looking) dan bukan sibuk berteriak menghujat pihak lain sebelum melihat kepada dirinya sendiri.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang terstruktur cara berpikirnya, karena membaca buku fiksi maupun nonfiksi sama-sama menstimulasi kerja otak.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang ‘tenang’, tidak grasak-grusuk.  Karena membaca membutuhkan ‘ruang tenang’ baik itu di perpustakaan, maupun di bis atau kereta komuter yang padat penumpang sekalipun.

Bangsa yang membaca adalah bangsa yang memiliki kepekaan dan kesadaran. Kesadaran terhadap dirinya, kekuatan dan kelemahannya dan kepekaan terhadap sekelilingnya. Bangsa yang membaca tidak mudah menyebar hoax ke berbagai media sosial, tidak membuang waktu berdebat untuk hal yang tidak jelas dasarnya.

Bangsa yang membaca memiliki lisan yang santun, runut dan kental karena merupakan hasil dari menghimpun, mengamati, merenungkan, dan merefleksikan apa yang dilihat, dan dirasakan.

Buku adalah tentang peradaban. Hanya bangsa yang membaca yang memiliki karakter dan peradaban tinggi. Bangsa yang tidak membaca lambat laun akan tersingkir dari peradaban.

Seperti dikatakan oleh Bung Hatta: “Aku rela di penjara, asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Ya, bangsa yang membaca adalah bangsa yang merdeka.

Indy Hardono

Minat Baca Indonesia Ada di Urutan 60 Dunia

Kondisi minat baca bangsa Indonesia memang cukup memprihatinkan. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

“Penilaian berdasarkan komponen infrastruktur Indonesia ada di urutan 34 di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan,” papar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, Sabtu (27/8/2016), di acara final Gramedia Reading Community Competition 2016 di Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta.

Kenyataan itu, menurut Anies, menunjukkan Indonesia masih sangat minim memanfaatkan infrastruktur. Jadi, menurut dia, indikator sukses tumbuhnya minat membaca tak selalu dilihat dari berapa banyak perpustakaan, buku dan mobil perpustakaan keliling.

Lebih lanjut, penggagas gerakan ‘Indonesia Mengajar’ itu menilai agar membaca bisa menjadi budaya perlu beberapa tahapan. Pertama mengajarkan anak membaca, lalu membiasakan anak membaca hingga menjadi karakter, setelah itu barulah menjadi budaya.

“Jadi budaya membaca itu hadir karena ada kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca ada jika ada rencana membaca secara rutin dan rutinitas dalam baca itu penting sekali,” kata Anies.

Tak Hanya Program

Selain membuat program, cara lebih efektif untuk meningkatkan minat dan daya baca adalah membuat movement atau gerakan. Menurut Anies, efek dari sebuah gerakan biasanya lebih cepat menyebar dibanding program.

“Movement kalau sudah menular maka akan unstoppable, sebab menularnya bukan karena perintah, dana, dan program tapi karena ada penularan,” kata pemilik nama lengkap Anies Rasyid Baswedan itu.

Anies pun memberi usul agar komunitas membaca tak menggunakan pendekatan program untuk menumbuhkan minat baca tapi dengan sebuah gerakan.

“Kalau didekatkan sebagai program, maka semua itu tergantung penyelenggara, tapi kalau didekati dengan gerakan, efeknya akan meluas sekali,” papar mantan Rektor Universitas Paramadina tersebut.

Adapun Gramedia Reading Community Competition adalah kejuaraan membaca untuk komunitas atau taman baca yang ada di Indonesia. Untuk mengikutinya para peserta harus mengirimkan essai dilengkapi dokumentasi foto atau video yang menceritakan kegiatan mereka.

Penyelenggaraan kali ini adalah final untuk regional Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Lampung. Empat regional lain sudah merampungkan kompetisinya, yaitu pertama Sumatera,  kedua Jawa Tengah dan Yogyakarta, ketiga Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Banjarmain dan terakhir regional Indonesia Timur.

Pemenang di masing-masing regional akan mendapatkan bantuan buku dan dana dari Gramedia.

“Jadi, selama satu tahun kita akan memberikan funding atau dana operasional. Kita juga akan memberikan buku selama tiga kali dalam satu tahun periode, jadi koleksi buku yang ada di komunitas-komunitas baca itu kita tambah,” kata Secretary PT Gramedia Asri Media, Yosef Aditiyo Corporate.

Dongkrak Minat Baca Anak dengan Metode Kreatif

Kreativitas mesti diterapkan untuk mendongkrak minat baca masyarakat sejak dini. Saat ini, Indonesia hanya berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei tentang kegemaran membaca.

Penelitian Connecticut State University bertajuk “World Most Literate Nations” itu dirilis pada 2016 lalu. Hasil itu menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia masih amat minim.

Upaya untuk menggenjot minat baca dapat dimulai dengan hal-hal sederhana, seperti mengubah pola pembelajaran di sekolah.

Seperti yang dilakukan Nurhamimah, Guru SDN 011 Sering Barat, Riau. Ia berani mencoba pola baru pada kelas yang diasuhnya. Metode pengajaran itu terdengar unik, yaitu “diagram wartawan.”

Guru yang biasa disapa Mimah itu mengatakan, diagram wartawan merupakan sarana agar siswa terbiasa mencerna segala informasi dengan cerdas dan komprehensif.

“Tidak asal baca tanpa hasil,” ujar Mimah saat berbagi pengalaman di forum diskusi minat baca yang diselenggarakan Tanoto Foundation, Kamis (27/7/2017), di Jakarta.

Setiap siswa yang diasuhnya diwajibkan untuk membaca buku dari perpustakaan sekolah. Setelah selesai membaca, ada sesi tertentu bagi siswa untuk mempresentasikan ilmu apa yang didapatnya dari buku tersebut.

Nah, di sesi itulah Mimah maupun rekan-rekan siswa dapat bertanya seperti yang lumrah dikerjakan seorang wartawan.

Rumusan pertanyaan dapat dikembangkan dengan prinsip 5W dan 1H yang lazim dipakai pekerja media saat menulis berita. Adapun 5W dan 1H terdiri dari penjabaran apa, mengapa, di mana, siapa, berapa, serta bagaimana.

“Dengan begitu, siswa tergerak untuk tidak hanya sekadar membaca, tetapi memberi makna atas apa yang dibacanya,” ucap Mimah.

Sebagai contoh, siswa membaca sebuah buku mengenai cerita rakyat Malin Kundang. Mimah akan bertanya, apa yang dilakukan Malin Kundang, di mana Malin Kundang melakukan aktivitasnya, siapa tokoh selain Malin Kundang.

“Kami mencoba metode baru untuk membangkitkan minat baca anak-anak. Ini jurus anti bosan di kelas,” tutur Mimah.

Tak berhenti di sana, siswa juga diminta Mimah untuk menulis kembali rangkuman dari buku yang telah dibaca. Metode ini mendorong siswa untuk memahami intisari dari sebuah buku.

“Tantangannya adalah ya, namanya juga anak-anak. Kami tak bisa 100 persen menuntut seperti apa yang diinginkan. Tetapi paling tidak, metode ini mendorong semangat mereka untuk membaca,” paparnya.

Serupa dengan Mimah, seorang guru SDN 204 Napal Putih Jambi bernama Painem juga menerapkan metode belajar kreatif untuk membangkitkan gairah baca siswa. Jurus yang dilakukan Painem dinamai “piramida cerita.”

Inti dari metode ini yakni setiap siswa diberi sebuah buku cerita untuk dibaca. Setelah itu, siswa menulis serta menggambar ilustrasi dari kisah buku yang dibaca. Bentuk medianya pun dibuat seperti segitiga dan terbuat dari karton.

“Cara ini membuat siswa dapat mengembangkan imajinasi dari sebuah cerita. Mereka dituntut untuk membaca cerita dari awal sampai akhir dan mengimajinasikan kembali dalam gambar dan tulisan,” kata Painem.

Untuk memunculkan kreativitas, Painem membagi siswa ke dalam kelompok. Di setiap kelompok, siswa akan saling membantu untuk mewarnai dan bercerita. “Ini turut melatih sikap kerja sama anak,” ujarnya.

Era Teknologi

Manajer Program Pelita Pendidikan Tanoto Foundation, Rahmat Setiawan, menilai metode-metode tersebut sebagai langkah maju untuk mendongkrak minat baca anak-anak.

“Di era digital ini, tantangan untuk meningkatkan minat baca anak semakin berat. Maka dari itu, perlu adanya upaya mengubah pembelajaran menjadi lebih kreatif dan tak membosankan,” ujarnya.

Metode kreatif tersebut mampu mendorong semangat siswa untuk belajar di sekolah. “Caranya bisa bermacam-macam, entah melalui permainan angka, huruf, puisi, dan sebagainya,” kata Rahmat.

Ternyata, membaca dapat menjadi hal yang menyenangkan. Asal tahu rahasianya…

Tangani Hoaks, Kemenkominfo Gunakan Pendekatan Agama

Kementerian Komunikasi dan Informasi berfokus menanamkan literasi dalam penanganan hoaks yang tersebar di media sosial. Sebab, penanganan secara hard approach tidak dapat menyelesaikan masalah hingga tuntas.

Menurut Menkominfo Rudiantara, literasi media merupakan salah satu upaya yang penting dalam menangkal penyebaran hoax. “Blokir tuh capek, kita capek menghadapi dan mengejar yang mau diblokir,” kata dia di Auditorium PTIK, Jakarta Selatan, Selasa (17/10).

Rudiantara mengatakan, mekanisme literasi media daring maupun media sosial akan dibuat segmentasi. Pembagian segmen masyarakat dikelompokkan berdasarkan geografis, tatanan masyarakat, suku, juga budaya.

Dalam hal ini, pemerintah salah satunya menggunakan pendekatan agama dalam menanggulangi hoaks. Pasalnya, di Indonesia, agama merupakan hal yang melekat di masyarakat. Sehingga, pendekatan agama dinilainya perlu dilakukan.

“Makanya, tahun ini, menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk ikut serta dalam penanganan berita hoax. Kalau di kalangan umat islam yang lebih didengar Rudi atau kiai, kan kiai,” ungkap Rudiantara.

Bukan hanya MUI, Rudiantara juga mengaku, telah berkoordinasi dengan tokoh mapupun organisasi keagamaan lainmya, seperti Kristen, Hindu, juga Budha. Yang terpenting, masyarakat harus melakukan pencegahan dari diri sendiri.

“Jangan jempol lebih cepat dari otak kita. Terima langsung forward. Kalau mau forward pastikan info tersebut memiliki nilai dan bermanfaat,” kata dia.

Remaja Rentan Jadi Penyebar Berita Hoaks

Berdasarkan hasil riset We Are Social yang dipublikasikan pada bulan Januari 2017, Indonesia disebutkan sebagai negara dengan pertumbuhan pengguna internet terbesar di dunia. Pada tahun 2016 ada 88,1 juta pengguna, dan di tahun 2017 menjadi 132,7 juta pengguna. Dari jumlah tersebut, 106 juta pengguna internet di Indonesia aktif bersosial media.

Pesatnya pertumbuhan penggunaan internet ini selalu memberi manfaat positif, ada juga dampak negatif. Salah satunya adalah dengan maraknya penyebaran informasi palsu atau yang lebih dikenal sebagai informasi hoax. Media sosial dapat digunakan menyebarkan hal-hal negatif, seperti ujaran kebencian, berita bohong atau informasi-infomasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Informasi-informasi hoaks dapat menimbulkan keresahan di masyarakat, memicu sikap permusuhan, yang berujung pada adu domba dan memecah belah masyarakat. Tentunya hal ini dapat mengganggu kelancaran program-program pembangunan yang sedang dijalankan oleh pemerintah,” papar Alois Wisnuhardana, Head of Social Media Management Center, dari Kantor Staf Presiden pada acara peluncuran kampanye SO TANGO Enaknya Gak Hoax, di SMKN 19, Jakarta (20/9).

Menurutnya, media sosial seharusnya dikembangkan ke arah produktif dan mendorong kreativitas dan inovasi. Generasi muda, khususnya pelajar, sangat rentan menjadi pelaku penyebaran hoax. Ia mengatakan beberapa pelaku penyebaran hoaks yang berhasil diungkap oleh aparat kepolisian ternyata masih berstatus pelajar.

Menurut Kementrian Kominfo, di akhir tahun 2016 ada 800 ribu situs yang terindikasi menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian. Hoaks banyak disebar terutama melalui media sosial. Berdasarkan hasil survei We Are Social di tahun 2017, 18 persen pengguna media sosial berusia 13 sampai 17 tahun, yang merupakan usia pelajar

“Tentunya hal ini sangat memprihatinkan,” ujarnya.